Rabu, 27 Januari 2009
Injil Markus 4: 1-20: "Pada suatu kali Yesus mulai mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka, 'Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak berduri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.' Dan kata-Nya, 'siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar."
Pokok-pokok renungan:
1. Benih adalah sabda Tuhan. Menaburkan sabda Tuhan bisa lewat khotbah, pelajaran resmi, TV, koran, majalah, website, blog dst.
2. Situasi pinggir jalan berarti orang-orang yang telah terampas kebebasannya untuk mengambil waktu atau memikirkan sesuatu sehingga hidupnya serba dangkal karena tidak mengendapkan pengalamannya.
3. Tanah yang berbatu berarti sabda Tuhan disambut sejauh menjadi 'hiburan'; tetapi sabda itu tidak boleh menyertakan tuntutan. Maka sesuatu yang sifatnya menghibur perlu berganti-ganti terus.
4. Tertabur di antara semak berduri tampak pada sikap yang dimiliki oleh orang-orang yang dililit urusan utang piutang, uang, kesibukan cari untung, cari promosi. Mereka tampak tidak peduli dengan moral dan iman.
5. Ditabur di tanah yang baik tampak pada orang-orang yang mengembangkan imannya secara gigih.